Posted by: tiatavias | January 21, 2011

yukk mengenal seren taun kampung budaya sindangbarang

Kampung Budaya Sindangbarang

Nara Sumber : Abah Ncem

Hari/tanggal   : Sabtu, 20 Maret 2010

suatu sore.. hihii.. ceritanya survey salah satu tempat yang akan dijadikan lokasi penelitian.. pergilah saya ditemani seorang teman mencari-cari dimana lokasi kampung budyaa sindangbarang..

daaannnnn.. jreng jreng jreng*** udahh nyampe.. horeee.. hahahaaa.. #yakgeje

ketemulah sama beberapa orang yg lagi kumpul disalah satu bale di wilayah kampung budaya itu..

dann ketemu sama abah ncem (sedikit lupa namanya siapa) hihii… pokoknya yang jaga disitu.. hmmm, kokolot disitu pokoknya.. hehee, karena pupuhu (semacam kepala adat) gak ada, jadi ngobrrol2 lah sama si abah.. hehee.. dan si abah lebih cerita ttg seren taun, inilahh hasil ringkasan cerita dari si abah yang udah diringkas ke dalam bahasa indonesia dan tambahan dari beberapa sumber..

Sindangbarang, namanya telah dikenal dan tercatat dalam babad Pakuan/Pajajaran sebagai salah satu daerah penting Kerajaan Sunda dan Pajajaran. Kampung Budaya Sindangbarang terletak di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Satu tahun sekali, digelar Upacara Adat ’Serentaun’ yaitu upacara ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan Yang Maha Esa, atas hasil panen dan hasil bumi yang diperoleh pada tahun berjalan, dan berharap hasil panen tahun depan lebih melimpah lagi. Upacara ini telah berlangsung sejak masih jayanya Kerajaan Pajajaran, dan masih berlangsung hingga kini. Untuk melestarikan kesenian tradisional di Kampung Budaya Sindangbarang, diselenggarakan pula pelatihan tari dan gamelan untuk anak-anak dan muda-mudi secara gratis. Anak-anak muda yang telah mahir di bidang kesenian masing-masing maka akan dilibatkan dalam pementasan menyambut tamu yang tentunya akan menambah penghasilan untuk mereka sendiri.

Serentaun yang diadakan di Desa Pasir Eurih merupakan bentuk ikatan emosional warga setempat terhadap tradisi dan budaya sunda yang ada. Hal ini adalah ikatan emosional yang divisualisasikan dalam bentuk kegiatan Serentaun. Ritual Serentaun Kampung Budaya Sindangbarang biasanya dilaksanakan pada bulan Muharam yang dilakukan selama tujuh hari rangkaian acara, yaitu:

1. Hari pertama diadakan upacara Neutepkeun, yaitu ritual yang dilaksanakan ditempat pabeasan atau tempat menyimpan beras di Imah Gede. Di Pabeasan semua bahan-bahan makanan yang akan dimasak dikumpulkan. Kokolot akan memimpin doa kepada Allah Swt dan menetapkan niat untuk memulai acara Serentaun serta memohon agar kebutuhan untuk konsumsi selama penyelenggaraan acara tidak mengalami kekurangan.

2. Hari kedua diadakan acara Ngembang, yaitu ziarah ke makam leluhur warga Sindangbarang yang letaknya di Gunung Salak. Makam yang diziarahi adalah makam Sang Prabu Langlangbuana Prabu Prenggong Jayadikusumah. Dipimpin oleh Kokolot Panggiwa dan Panengen.

3. Hari ketiga adalah Sawer Sudat dan Ngalage. Yaitu Upacara Sudat (sunat) menurut tradisi budaya Bogor yaitu mengarak pengantin sunat.

4. Hari keempat dilaksanakan Sebret Kasep, yaitu pelaksanaan sudat (sunat) itu sendiri, khitanan masal yang dilakukan tidak boleh lebih dari pukul 14:30 WIB. Hal ini dikarenakan pukul 15.00 WIB akan dilakukanNgunday yaitu marak lauk (mengambil ikan) di sungai.

5. Hari kelima dilaksanakan Ngukuluan, yaitu tugas kepada kokolot dan parawari untuk memulai menyiapkan tujuh kendi untuk mengambil air dari tujuh sumber mata air, yaitu:

  • Cipamali, merupakan sumber mata air pertama yang harus dilakukan karena merupakan gerbang perbatasan Pajajaran. Para kokolot dan parawari meyakini adanya gerbang emas yang dapat dilihat oleh mata batin. Pengambilan air dari Cipamali diyakini untuk menjaga orang-orang yang ingin berniat jahat/khianat kepada kampung.
  • Cimaeja, merupakan tokoh perempuan sakti yang memilikitampian/pancuran yang mengalir ke sungai.
  • Cimalipah, merupakan tokoh perempuan sakti yang memilikitampian/pancuran di tengah hutan.
  • Cikubang, merupakan mata air yang digunakan untuk memandikaningon-ingon (peliharaan) Raja, seperti itik, soang, kerbau.
  • Sumur Jalatunda, mata air ini diyakini manfaatnya untuk mengobati orang sakit.
  • Ciputri, merupakan tempat mandi putri raja pada kerajaan Pajajaran.
  • Cieming, merupakan tokoh perempuan sakti yang memilikitampian/pancuran yang terletak di rumpun bambu.

Setelah dilakukan pengambilan dari ketujuh mata air tersebut kemudian tujuh kendi tersebut disatukan di tempayan yang dibungkus oleh kain putih dan hitam. Ketujuh sumber mata air yang diambil dalam proses ritual Serentaun dikelola oleh masyarakat lokal.

6. Hari keenam barulah disiapkan acara Ngijabkeun (menyebut nama-nama leluhur yang sudah tiada), Sedekah kue (sebanyak 40 tampah kue disediakan dihadapan warga dan kokolot), Helaran (pawai), Nugel Munding (ngarak kerbau), Sedekah daging, dan Pertunjukan seni. Pertama dibacakan riwayat kampung dan doa, setelah itu kue diperebutkan. Setelah itu dilakukan helaran dengan mengarak tumpeng dan diiringi awalan angklung gubrag, tujuh orang mojang, pembawa pohon hanjuang, jampana berisi air kukulu, pembawa tebu hitam, pembawa jampana daging, pembawa pohon hanjuang, para kokolot, kesenian reog, calung, kendang pencak diikuti oleh warga masyarakat menuju lapangan SD Inpres untuk memotong kerbau. Daging kerbau yang dipotong kemudian dimasak dan diperebutkan oleh masyarakat. Malam harinya dihadirkan pertunjukan seni di dua buah panggung. Yang satu di alun-alun kajeroan dan satu lagi di lapangan.

7. Hari ketujuh merupakan hari puncak yaitu pelaksanaan Helaran Majiekeun Pare (menimpan pare ke dalam leuit) dan Helaran Dongdang (ngarak dongdang). Ngarak Dongdang dimulai dari Imah Kolot yang jaraknya satu kilometer dari kawasan Kampung Budaya Sindangbarang. Warga dengan berpakaian adat (baju putih, celana hitam, dan ikat kepala hitam putih) dengan riang mempersiapkan dan membawa aneka hasil bumi untuk diarak bersama pembawa Rengkong (padi) hasil panen, para kokolot dan rombongan kesenian, juga warga lainnya. Dongdang yang dipersiapkan oleh 54 RT itu sebelum berangkat didoakan terlebih dahulu. Seorang sesepuh memimpin doa tersebut sambil menyipratkan air dari kendi yang berisi air dari tujuh mata air (Kukulu) pada rombongan dan warga. Pukul 08.30 rombongan helaran segera bergerak menuju Kampung Budaya Sindangbarang untuk melakukan upacara Majiekeun Pare ayah dan ambu ke dalam lumbung Ratna Inten. Di lapangan, tepatnya di halaman Imah gede, sang Rama sudah menunggu untuk melakukan prosesi upacara adat memasukkan padi. Kemudian setelah selesai memasukkan padi sang Rama memberi pesan-pesan kepada warga yang hadir. Dongdang pun segera dibawa kedepan. Setelah di doakan oleh sang Rama Dongdang langsung diperebutkan oleh warga dan pengunjung. Warga dan pengunjung itu langsung menyerbu jajaran tandu yang berisi aneka buah-buahan dan sayur-sayuran. Tak sampai 15 menit Dongdang langsung abis dan menyisakan rangkanya saja. Tuntas memperebutkan Dongdang warga di hibur dengan pertunjukan tari yang diiringi oleh gamelan. Secara atraktif 50 muda-mudi Sindangbarang mempertunjukkan keahlian mereka, disusul Gondang, Angklung Gubrag, Kendang Penca dan diakhiri dengan Rampak Parebut Seeng. Seluruh rangkaian acara puncak tersebut diikuti oleh sesepuh Kampung Budaya Sindangbarang, pejabat Provinsi Jawa Barat dan Muspida Kabupaten Bogor bersama tamu undangan lainnya. Malam harinya di Imah gede, para kokolot dan Sang Rama berkumpul untuk menceritakan sejarah perjalanan Sindangbarang dari jaman Kerajaan Pajajaran hingga kini. Di alun-alun Kajeroan pagelaran wayang golek semalam suntuk digelar.

nahh, itulah sedikit ulasan mengenai seren taun,  untuk acara seren taun 2011 ini, disayangkan sekali saya gabisa hadirrr :,)..

okeee.. nantii diterusinn yahh mengenal lebih jauh tentang kampung budaya sindangbarang dan kampung budaya lainnya yang lebih menarik..


Responses

  1. keep posting newbie hahahaha

    kalo ke kampung buidaya lagi ajak2 gua yaahhh!!!
    katanya bayar yah masuknya?

  2. ahahaa,banyak ide yg pengen gw tulis pung,tp berasa males bgt nulisnya,mulai awalnya ituloh.hahaa

    hayokk jalan2 ke kampung budaya di seluruh endonesa hahahaa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: