Posted by: tiatavias | December 4, 2011

There is “Pamali” in my family

Pamali gak cuma ada di daerah masyarakat adat especially Kampung Kuta yang jadi lokasi penelitian skripsi saya.. Pamali juga ada di keluarga saya, dan mungkin ada di seluruh keluarga orang Sunda.. Ada beberapa poin bentuk Pamali yang sudah saya kenal sebelum saya ke Kampung Kuta, misalnya:
– perempuan itu tidak boleh duduk di depan pintu
– perempuan itu tidak boleh keramas pada sore dan malam hari
– perempuan yang sedang datang bulan tidak boleh potong kuku, potong rambut, dan tidak boleh keramas
– dan masih ada beberapa bentuk Pamali lainnya, saya lupa (nanti akan saya wawancara si emaknya dulu)

Kenapa selalu perempuan? Apakah ini suatu bentuk ketidakadilan gender? Yah, ketika Pamali ini diciptakan, pengenalan tentang Gender pastinya belum dikenal oleh para leluhur kita.

Dan lalu, apakah saya ikut melestarikan Pamali ini dalam kehidupan sehari-hari?

Ibu saya selalu ngomel kalo saya keramas atau mandi malam hari. Ibu saya selalu ngomel ketika melihat potongan rambut baru ketika tau saya sedang datang bulan. “Anak jaman sekarang susah dibilanginnya, mana ngerti Pamali”, kata ibuku.

Saya tidak dilahirkan dalam suatu komunitas masyarakat adat yang terikat. Saya dilahirkan dalam realitas masyarakat yang berkembang mengikuti zamannya. Lalu jawabannya? Mungkin saya tidak mengikuti secara penuh Pamali tersebut, tapi hal itu akan terus saya ingat sebagai panduan pada arah yang positif. Kenapa tidak boleh duduk di depan pintu? Nantinya akan menghalangi jalan. Kenapa tidak boleh keramas sore atau malam hari? Nanti bisa masuk angin. Kenapa tidak boleh potong kuku, potong rambut, dan tidak boleh keramas ketika datang bulan? Hmmm..

Dan lalu, apakah leluhur saya akan marah ketika Pamali ini saya langgar? Seperti yang terjadi di Kampung Kuta, ketika ada seseorang yang melanggar, maka orang tersebut akan diberikan malapetaka. Menyeramkan. Tapi saya yakin leluhur saya baik, dan saya yakin Tuhan tau maksud dan tujuan saya baik, dan tidak ada kesengajaan untuk melanggarnya.

Everything happens for a reason.

-051212-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: