Posted by: tiatavias | January 2, 2012

Aku dan Mataku dalam Fantasi

Mentari Pagi ini membuatku senyum-senyum sendiri. Aku kembali dalam Fantasi. Hujan. Fantasiku adalah Hujan, itu dulu. Sekarang juga masih, dan bertambah. Aku suka Hujan. Pelangi. Aku suka Pelangi setelah Hujan. Cantik, berwarna-warni. Pelangi di balik Awan. Awan, semakin menggemaskan. Awan yang sempat kuajak bermain berlarian bertelanjang kaki di bibir Pantai. Kulirik satu Awan, dia pasti mengikutiku bersama gerombolannya. Genit sekali. Seperti Hujan yang selalu genit menyentuh tubuhku. Aku tetap suka.

Dua Malam ini pandanganku digerayangi Kembang Api. Aku sangat suka. Kembang Api dengan cahaya berwarna warni. Terang menderang dalam gelapnya Malam. Menggantikan kekecewaanku karena tak hadirnya Bintang. Hujan ini membuat Malam mendung. Bintang sembunyi, mungkin dia takut bila Petir datang dengan tiba-tiba. Bintang yang malang “kemarilah Bintang, sembunyi saja dihatiku”.

Hujan. Pelangi. Awan. Bintang. Kembang Api. Aku suka semua. Semuanya di Langit. Aku suka. Suka sekali. Tak lupa juga akan Bulan dan Matahari. Semua selalu buat aku senyum-senyum sendiri.

Bulan. Kau selalu menerangi Malamku. Kau sering temani aku menyusuri jalanan. Aku tak pernah takut akan kesendirian Malam. Karena selalu ada kamu dan Bintang.

Matahari. Kamu nakal belakangan ini. Apa kamu marah? Kamu sering buat aku tertunduk dan berkeringat karena terikmu “Matahari, tolong jangan hukum aku”. Tapi meskipun kamu nakal, kamu tetap cantik apalagi di Pagi dan Sore hari. Orange. Aku suka. Aku suka kamu di Sore hari. Aku suka Sore. Aku suka Senja.

Tuhan.. Terima kasih Kau sudah ciptakan mereka dalam Mataku. Terima kasih untuk tatapan damai yang kurasakan. Terima kasih untuk Mata kecil yang mampu melihat besarnya Langit indah-Mu. Aku suka. Aku jatuh cinta pada Langit.

Lalu saat Fantasiku tak hanya satu. Apakah aku Sarpakenaka?

Tidak Tuhan. Fantasi itu hanya buah pemikiran dari bisikan Mata kecilku. Sepasang Mata yang jatuh cinta pada seisi Langit indah-Mu. Sepasang Mata yang menginginkan adanya sepasang Mata lain untuk menemani menikmati Langit-Mu. Pasangan Mata yang beradu tatap, berbicara, berekspresi akan indahnya Langit-Mu. Dunia-Mu. Dua pasang mata dalam Cinta. Dia. Tuhan, tambahkan Dia dalam Mataku. Hadirkan Dia agar aku bisa beradu senyum dengannya.

-09.09, 2 Januari 2012, saat mentari pagi dengan Mata yang termanjakan pemandangan Gunung Salak-


Responses

  1. keren bgt tulisannya… :D

    • Hehee terima kasihhh :D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: