Posted by: tiatavias | January 18, 2012

Titipan surat buat Tuhan

Dear Tuhan,

Hallo Tuhan, Kamu tau kan kalo aku lagi bikin surat cinta tiap harinya. Tapi di hari kelima ini, aku jadi kurir nih buat nyampein surat temen aku, buat Kamu. Barusan dia titip surat sama aku, namanya Iren.

Hai Tuhan,
Apa kabar? Pasti sedang sibuk ya mengurus semesta? Di sela-sela kesibukan-Mu, sudikah kiranya sejenak membaca surat ini. Beribu maaf jika hamba lancang meminta sedikit perhatianmu. Bukan sama sekali karena Engkau tidak pernah memperhatikan hamba.
Hamba tau dan sadar, Kau senantiasa memperhatikan hamba setiap hari, setiap detik. Pasti ketika hamba sedang menulis surat ini pun Kau sedang memperhatikan. Hamba cuma mau sedikit curhat. Waktu manusia lemah seperti hamba tidak tau lagi harus curhat sekaligus meminta sedikit perhatian pada siapa, ya siapa lagi yang bisa diajak curhat kalau bukan ke Sang Pemiliknya?
Tuhan, sebelumnya beribu syukur dan terimakasih hamba haturkan karena telah memberikan hamba rejeki yang tidak pernah putus dari mulai spermanya papah ketemu sama ovumnya mamah dan saya masih jadi makhluk bersel satu hingga detik ini 23 tahun 3 bulan 15 hari (ini perkiraan sih, dihitung sejak saya bersel satu dan terlalu cepet lahir 3 hari hehe). Terimakasih karena telah dihadirkan di keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang dan ga pernah merasakan kekurangan. Aduh, kalau saya diminta menyebutkan satu-satu rejeki yang saya peroleh, ampun beribu ampun ga akan pernah sanggup saya. Bahkan setiap kedipan mata ini juga pemberian-Mu kan?
Hamba sangat bersyukur dan bahagia sudah diberi orang tua yang ini, bukan yang lain. Mereka baik sekali, habis kata-kata dan kekurangan bahasa rasanya saya kalau harus membahasnya. Dari yang telah mereka beri dan korbankan, di usia saya ini, mereka hanya minta saya punya pekerjaan, bahagia dan mandiri. Tuh kan? bahkan mereka minta balasannya pun bukan buat mereka sendiri, tetep mikirin saya juga kan?
Hai Tuhan, tetapi kenapa memberi apa yang mereka minta rasanya sulit sekali diwujudkan? Duh Tuhan, hamba malu sama mereka. Banyak yang mereka beri dan korbankan tetapi saya penuhin satu permintaannya tidak becus. Saya hanya ingin mereka bahagia padahal. Haha, hamba juga malu minta-minta melulu, sementara apa yang bisa hamba beri juga tidak banyak.
Ah, dasar manusia. Sudah diberi banyak masih ada saja yang ingin diminta.
Yah, namanya juga curhat, hamba cuma ingin menyampaikan keluh kesah. Terimakasih kalau engkau sudi membaca surat ini, apalagi kalau dibalas :)
Tertanda:
Hambamu yang pengangguran dan tukang meminta (Sambil menengadahkan tangan, lalu tutup muka… malu…)

Nah itu dia Tuhan suratnya dan selain jadi kurir, boleh gak aku minta hal yang sama *gak mau rugi* hihii. Kamu tau banget kalo apa yang disampaikan Iren juga sama kaya yang aku curhatin sama Kamu selama ini. Tapi tenang Tuhan, aku bakalan sabar nunggu jawaban dari Kamu. Aku yakin semua akan indah pada waktunya. Tapi dipercepet bisa kan *kedip-kedip* hihii tetep nawar. Jangan marah yah, aku becanda kok. You know me so well lah ;p. Maafin aku yah. Makasih Tuhan :)

Regards,
Aku yang suka bandel sama Kamu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: