Posted by: tiatavias | March 13, 2012

Kebetulan yang Bukan Kebetulan (part 2)

serangkaian kebetulan yang terjadi itu adalah sebuah situasi penyadaran diri. saya tidak mau terlalu membenarkan diri saya. saya juga tidak mau terlalu menyalahkan diri saya. itu sudah berakhir.

saya menoleh kembali. mengingat kembali. untuk belajar, belajar sadar diri.

apa mungkin saya cinta kamu?

tidak.

ini bukan cinta. mungkin hanya perasaan bersalah.

ahh, tapi bayanganmu kadang hadir tiap kali saya bertemu dia. dia, pria ketiga. dia, yang lama-kelamaan tak mirip kamu.

kalian tidak mirip. Tuhan hanya ingin mencolek hati saya untuk mengingatmu. Tuhan berhasil. saya ingat. bahkan, saya rindu.

setahun sudah tak bertemu. apa tanganmu masih suka berkeringat ketika terik matahari menghampirimu?

saya tidak benci kamu. ingat itu. saat itu saya hanya takut. takut jika kamu semakin bertindak bodoh. saya takut kamu kembali remuk hanya karena saya tidak berhasil mencintai kamu. lebih baik saya yang dipersalahkan bukan?

kamu pernah bertanya, apa rasa itu pernah ada? ADA. ada rasa atas sebuah keinginan untuk memulai kehidupan yang baru. kita hanya gagal, saya yang gagal. saya yang gagal untuk menikmati kenyamanan yang kamu tawarkan sehingga menjelma menjadi sebuah ketidaknyamanan.

apakah tolol jika ada seorang pria yang dengan tulus mencintai, tapi teracuhkan hanya karena tidaknyamanan?

apa sih arti sebuah kenyamanan?

nyaman. saya dan kamu. tersenyum.

*****

pada pertemuan terakhir ketika kita berjalan bersama dan kamu akan beribadah, kamu bilang saya tidak menoleh ketika saya pergi. saya tau kamu memerhatikan saya sampai saya pergi. berharap ada mata yang bertemu bukan? saya menoleh tepat ketika kamu masuk ke rumah Tuhan. sayangnya mata itu tidak bertemu. dan mungkin tidak akan pernah bertemu karena dimatamu hanya tersisa delikan kebencian untuk saya.

*****

apa masih perlu saya meminta maaf?

*****

satu hal yang harus kamu perlu tau. kekacauan kita bukan karena pihak lain. bukan karena dia yang selalu membuatmu cemburu. tapi karena kita.

kita. saya dan kamu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: